nelayan

News

Nelayan Gunungkidul Waspada: Gelombang Tinggi Rusak Sejumlah Kapal

Radio Persatuan – Gelombang tinggi yang melanda kawasan pantai selatan Kabupaten Gunungkidul pada Rabu (6/8) dini hari mengakibatkan beberapa kapal nelayan mengalami kerusakan. Peristiwa ini terjadi setelah gelombang pasang menerjang sejumlah pantai sejak Selasa (5/8) malam. Menurut Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul, Rujimanto, satu kapal di Pantai Ngandong pecah akibat terjangan ombak. “Satu kapal yang pecah ini belum sempat dinaikkan ke daratan,” ujarnya saat ditemui di lokasi. Beruntung, para nelayan segera bergerak cepat untuk mengevakuasi kapal-kapal mereka sehingga kerusakan tidak meluas. Di Pantai Baron, dampaknya lebih parah. Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah Operasi II Pantai Baron, Marjono, melaporkan lima kapal nelayan terbalik. “Lima kapal nelayan hanyut terseret arus ke selatan dan terbalik karena tali pengikatnya putus,” jelasnya. Tiga kapal berhasil dievakuasi oleh nelayan dan personel Satlinmas, sementara dua lainnya masih tenggelam. Marjono mengimbau agar para nelayan di kawasan Gunungkidul selalu berhati-hati dan tidak memaksakan diri melaut jika gelombang masih tinggi. Sejumlah pantai yang terdampak gelombang tinggi ini meliputi Pantai Baron, Sundak, Ngandong, dan Siung. Gelombang tinggi ini merupakan siklus cuaca tahunan yang biasa terjadi.

News

Jeritan Nelayan Gunungkidul: Butuh SPBN, Bukan Janji Belaka

Nelayan di Pantai Sadeng, Kalurahan Songbanyu, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, kembali menyuarakan urgensi pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di area dermaga. Harapan ini muncul seiring meningkatnya kebutuhan bahan bakar untuk melaut yang tidak diimbangi dengan akses yang memadai, berpotensi menghambat produktivitas mereka. Produktivitas Terancam Akibat Kelangkaan Akses BBM Ketua Kelompok Nelayan Sadeng, Sarpan, mengungkapkan bahwa kebutuhan bahan bakar terus melonjak. Saat ini, satu unit kapal besar membutuhkan sekitar 2.500 liter bahan bakar setiap kali berangkat melaut, sementara kapal kecil atau jukung memerlukan rata-rata 350 liter. Kondisi ini berbanding terbalik dengan ketersediaan SPBN. “Dulu sudah ada [SPBN], tapi karena waktu itu keburu nafsu, Sadeng belum mampu [produksi ikan] tapi sudah dikasih. Akhirnya, SPBN itu tidak terpakai,” kenang Sarpan saat ditemui di Pantai Sadeng pada Rabu (9/7/2025). Ia menambahkan, ironisnya, kini saat kemampuan melaut dan kebutuhan bahan bakar nelayan meningkat, SPBN justru tidak tersedia. “Makanya saya mohon, saya minta, ya harus ada itu SPBN,” tegasnya. Kendala Perencanaan dan Harapan Program Nasional Menanggapi aspirasi nelayan, Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Wahid Supriyadi, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengusulkan pembangunan SPBN di Pantai Sadeng. Namun, usulan tersebut masih terhambat pada tahap penyiapan lahan. “Sebenarnya ada peluang untuk pembangunan SPBN melalui program Kampung Nelayan Merah Putih, dan sudah kami usulkan juga,” kata Wahid. “Hanya saja, saat desk evaluasi proposal minggu lalu, realisasinya ternyata baru sampai pada penyiapan lahannya saja, belum berupa bangunan SPBN seperti yang dibayangkan,” imbuhnya. Situasi ini menyoroti tantangan koordinasi dan realisasi program pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar sektor perikanan. Harapan besar kini digantungkan pada percepatan proses birokrasi dan dukungan penuh dari pemerintah pusat agar SPBN dapat segera terealisasi demi keberlangsungan mata pencaharian ribuan nelayan di Pantai Sadeng.

Scroll to Top