
Radio Persatuan – Permasalahan ketersediaan air bersih di Kabupaten Gunungkidul, khususnya di wilayah pinggiran dan dataran tinggi, kembali menjadi sorotan. Meskipun sejumlah program telah diluncurkan, tantangan ini masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah. Namun, harapan baru muncul melalui inisiatif pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum Pedesaan (SPAMDes), yang tahun ini menargetkan 15 lokasi.
Salah satu proyek yang sedang berjalan adalah SPAMDes di Kalurahan Kedungpoh, Kapanewon Nglipar. Proyek ini menjadi jawaban atas keluhan warga yang kesulitan air, terutama saat musim kemarau. Menurut Ketua Kelompok Pengelola SPAM dan Sanitasi (KPSPAMS) Banyuku, Sutejo, selama ini masih ada warga di dua RT yang belum terjangkau jaringan pipa, sehingga terpaksa membeli air tangki.
“Program ini sangat kami harapkan. Warga tidak perlu lagi membeli air tangki atau mengambil dari sungai. Ini sangat membantu,” ujar Sutejo.
Solusi Jangka Panjang untuk Warga Kedungpoh
Sutejo menjelaskan, meskipun wilayahnya pernah mendapatkan program serupa, cakupannya terbatas. Kali ini, pemerintah menambah satu bak reservoir baru, sehingga total ada tiga bak, yang diharapkan dapat melayani seluruh warga di Padukuhan Kedungpoh Kidul. Pembangunan fasilitas ini kini telah mencapai 60%.
“Dengan tiga bak reservoir, kami optimistis seluruh warga bisa mendapatkan air bersih, terutama saat kemarau,” tambahnya.
Proyek ini tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga menjamin akses yang terjangkau bagi masyarakat. Tarif yang dikenakan hanya Rp3.000 per meter kubik, dengan pengelolaan pembayaran yang diserahkan kepada kelompok masyarakat. Hal ini diharapkan meringankan beban warga.
Komitmen Pemerintah dan Detail Proyek
Bupati Gunungkidul menegaskan komitmen pemerintah untuk mengatasi masalah air bersih melalui program strategis seperti SPAMDes. Proyek di Kedungpoh ini didanai dengan anggaran sebesar Rp238 juta. Dana tersebut digunakan untuk membangun reservoir, memompa air dari sumur, dan memasang jaringan pipa sepanjang dua kilometer menuju rumah-rumah warga.
“Air dari sumur akan ditarik ke atas, lalu disalurkan ke rumah warga,” jelas Endah Subekti Kuntariningsih.
Sistem ini dirancang untuk menyalurkan debit air sebesar dua liter per detik dan diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi sekitar 50 kepala keluarga.
