
Radio Persatuan – Balai Pintar Perpustakaan Desa (Perpusdes) di Kalurahan Pengkol, Kapanewon Nglipar, Gunungkidul, berhasil mengubah wajah literasi di wilayahnya. Berawal dari minimnya minat baca warga, kini Perpusdes ini menjadi ruang kreatif dan pemberdayaan yang meraih prestasi hingga tingkat nasional.
Ide pendirian Perpusdes muncul pada tahun 2014 sebagai respons terhadap rendahnya budaya membaca di kalangan anak-anak maupun orang tua. Pengelola Balai Pintar Perpusdes Pengkol, Dewi Ria Rahayu, menceritakan, saat itu respons warga masih pasif sehingga program sempat stagnan.
Namun, tidak menyerah. Pada tahun 2017, pengelola berbenah diri dengan menyusun strategi baru, yaitu fokus pada pendekatan inovatif dan program kreatif. Upaya ini membuahkan hasil signifikan.
“Dulu memang sulit menanamkan budaya membaca karena musuh terberatnya adalah gadget. Tapi perlahan, dengan kegiatan inovatif, kesadaran untuk membaca dan berkunjung ke Perpusdes sekarang luar biasa,” ungkap Dewi.
Perpusdes sebagai Ruang Pemberdayaan dan Pengganti Gawai
Perpusdes Pengkol kini tidak hanya sekadar tempat meminjam buku. Berbagai kegiatan menarik di akhir pekan, seperti kelas tari dan English Class, berhasil menarik minat anak-anak. Dewi menjelaskan bahwa kegiatan-kegiatan ini tak hanya menyediakan hiburan, tetapi juga membantu mengurangi ketergantungan anak-anak pada gawai.
“Di sini kami sama-sama belajar dan bertumbuh untuk budaya literasi yang lebih maju,” ujar Dewi.
Selain itu, Perpusdes ini juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Salah satu program unggulannya adalah pelatihan membatik. Produk batik yang dihasilkan tidak hanya untuk latihan, tetapi juga dijual, sehingga menambah penghasilan peserta dan memperkuat UMKM desa. Program lain yang tak kalah penting adalah edukasi membaca nyaring untuk ibu-ibu dan lansia, yang bertujuan agar mereka dapat mendampingi anak-anak belajar di rumah.
Kunci Sukses dan Prestasi Nasional
Keberhasilan Balai Pintar Perpusdes Pengkol ini membawa mereka meraih sejumlah penghargaan, termasuk juara 3 tingkat nasional pada tahun 2022 untuk kategori program inovatif. Perpustakaan yang semula hanya memiliki 300 buku, kini koleksinya mencapai lebih dari 2.000 berkat bantuan dari berbagai pihak.
Kesuksesan ini menarik perhatian banyak pihak. Perpusdes Pengkol sering dikunjungi untuk studi tiru dari berbagai daerah, mulai dari Malang hingga Sulawesi. Dewi menegaskan bahwa kunci keberhasilan mereka bukan hanya pada pengelolaan yang baik, melainkan juga berkat peran aktif dan kolaborasi masyarakat.
“Membangun Perpusdes yang sukses bukan hanya soal pengelolaannya yang baik, tetapi juga karena peran aktif masyarakat,” tutupnya.
