info jogja

News

Mahasiswa Terobos Lampu Merah di Yogyakarta, Dua Pedagang Tewas

Radio Persatuan – Kecelakaan maut terjadi di perempatan Bugisan, Wirobrajan, Kota Yogyakarta, pada Kamis (14/8/2025) dini hari. Sebuah mobil Honda Jazz yang dikemudikan seorang mahasiswa, FMU (22), menerobos lampu merah dan menabrak sepeda motor, mengakibatkan dua pedagang, MJ (51) dan SP (52), tewas. Kasi Humas Polresta Yogyakarta, Iptu Gandung Harjunadi, menjelaskan kronologi kejadian. Kecelakaan bermula saat sepeda motor Honda Vario yang dikendarai MJ dengan pembonceng SP berhenti di lampu merah di sisi timur perempatan Bugisan. Kedua korban, yang merupakan warga Sewon, Bantul, dan berprofesi sebagai pedagang, melaju sesuai aturan lalu lintas. Saat lampu hijau menyala, sepeda motor bergerak ke arah Jalan Kapten Piere Tendean. Namun, dari arah utara, mobil Honda Jazz bernopol AB 1943 JV melaju kencang dan menerobos lampu merah. Tabrakan tak terhindarkan karena jarak yang terlalu dekat. Akibat benturan keras, pembonceng sepeda motor, SP, meninggal dunia di lokasi kejadian dengan luka patah tulang. Sementara itu, pengendara sepeda motor, MJ, meninggal dunia setelah sempat dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Polisi mengidentifikasi pengemudi mobil Honda Jazz sebagai FMU (22), seorang mahasiswa asal Klaten. Penumpang mobil tersebut, MH (22), warga Gunungkidul, juga diketahui berada di lokasi. Iptu Gandung Harjunadi menambahkan, penumpang mobil Honda Jazz meninggalkan tempat kejadian setelah insiden tersebut. Kasus ini saat ini ditangani oleh pihak kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut.

News

Keberagaman Budaya Nusantara Pukau Malioboro dalam Ajang Nusantara Menari

Radio Persatuan – Ribuan seniman dari berbagai daerah di Indonesia memukau kawasan Malioboro, Yogyakarta, pada Rabu (6/8/2025) malam. Mereka menari bersama dalam sebuah gelaran akbar bertajuk Indonesian Street Performance Jogja Cross Culture: Nusantara Menari. Acara ini sukses menyatukan keberagaman seni budaya dari Sabang sampai Merauke dalam satu panggung terbuka di ruang publik ikonik tersebut. Acara yang menjadi bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XI Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2025 ini, bukan sekadar pertunjukan tari biasa. Menurut Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, “Nusantara Menari merupakan pertemuan dan interaksi langsung antara para peserta karnaval dan masyarakat Yogyakarta melalui street performance atau seni pertunjukan di ruang publik.” Tiga Bingkai Warisan Budaya Mempererat Solidaritas Nusantara Menari terbagi dalam tiga bingkai utama yang menampilkan kekayaan warisan budaya Indonesia, sekaligus mempererat solidaritas antardaerah. Bingkai pertama, Pusaka Wastra Nusantara, menampilkan para penari dengan kain khas dari daerah masing-masing. Wastra, atau kain tradisional, tidak hanya merepresentasikan keindahan visual, tetapi juga menjadi simbol kemajuan teknologi sandang Nusantara di masa lampau. Selanjutnya, pada bingkai Pusaka Kriya Nusantara, para penampil membawakan seni kerajinan topeng. Hasto Wardoyo menjelaskan, “Ragam gaya topeng mencerminkan kreativitas, daya imajinasi, serta identitas budaya tiap daerah. Topeng menjadi cermin hidup dari pusaka kriya Nusantara.” Terakhir, bingkai Pusaka Ksatria Nusantara mengangkat figur lokal hero dari setiap daerah, yang menjadi simbol kualitas manusia unggul. Penampilan ini juga dilengkapi dengan senjata tradisional, melambangkan semangat perjuangan dan nilai-nilai kebangsaan. Selain melibatkan seniman dari anggota JKPI, acara ini juga menampilkan penari dari 14 kemantren di Kota Yogyakarta, semakin memperkaya ragam pertunjukan yang ada. Gelaran ini memanfaatkan Malioboro, yang merupakan bagian dari Sumbu Filosofis Yogyakarta, sebagai ruang kultural strategis. Pemerintah Kota Yogyakarta berkolaborasi dengan Jogja Cross Culture (JCC) untuk menjadikan acara ini sebagai etalase budaya Nusantara, sekaligus penggerak ekonomi kreatif. “Mari jadikan kegiatan Nusantara Menari sebagai penggerak ekonomi kreatif agar seluruh warga dapat merasakan dampak nyata,” pungkas Wali Kota Hasto. Gelaran ini membuktikan bahwa seni budaya memiliki peran sentral tidak hanya dalam melestarikan warisan, tetapi juga dalam membangun kebersamaan dan menggerakkan roda perekonomian lokal.

Scroll to Top