Ketika Sekolah Tak Lagi Berpenghuni: Fenomena Sepinya Bangku SD di Gunungkidul

Ilustrasi

Senin pagi di pertengahan Juni 2025, bangku-bangku kosong di 14 Sekolah Dasar di Gunungkidul terasa lebih sepi dari biasanya. Bukan karena libur sekolah, melainkan karena ketiadaan riuh rendah calon siswa baru. Sebuah fenomena yang mengkhawatirkan, ketika gerbang sekolah dibuka lebar, namun tak ada satu pun tangan kecil yang mengetuk untuk mendaftar.

Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul mencatat, Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2025/2026 menjadi saksi bisu fenomena ini. Sebanyak 14 SD, baik negeri maupun swasta, harus menghadapi kenyataan pahit: nihil pendaftar.

“Ada 14 sekolah yang tidak memiliki pendaftar siswa baru pada tahun ajaran ini. Itu berdasarkan data dari sistem online,” terang Nunuk Setyowati, Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, pada Selasa (17/06/2025).

SPMB jenjang SD yang dibuka secara daring pada 3 hingga 5 Juni 2025 itu rupanya tidak membawa angin segar bagi sejumlah sekolah. Di antara ratusan SD yang berpartisipasi, beberapa di antaranya seolah ‘terlupakan’, tak menarik minat calon siswa sedikit pun.

Daftar Sekolah yang Sepi Peminat
Nunuk merinci, sekolah-sekolah yang tak mendapatkan siswa baru tersebut meliputi:

Sekolah Negeri:

  • SDN Giripanggung
  • SDN Gupakan II
  • SDN Kropak
  • SDN Puleireng (semuanya di Kapanewon Tepus)
  • SDN Gunungsari (Kapanewon Semanu)
  • SDN Jaten (Tanjungsari)
  • SDN Wonolagi (Playen)

Sekolah Swasta:

  • Kanisius Bandung 1 (Playen)
  • SD Muhammadiyah Boarding School
  • SD Muhammadiyah Gebang (Rongkop)
  • SD Muhammadiyah Pilangrejo (Nglipar)
  • SD Muhammadiyah Wareng (Wonosari)
  • SD Muhammadiyah Wonodoyo (Ponjong)
  • SD Sanjaya (Kalurahan Giring, Paliyan)

Melihat kondisi ini, Dinas Pendidikan tak tinggal diam. Nunuk menegaskan bahwa pendaftaran secara luring akan dibuka hingga jadwal masuk sekolah. “Secara online memang tidak ada pendaftar. Maka dari itu, kami menerapkan kebijakan untuk membuka pendaftaran secara offline hingga jadwal masuk sekolah. Prinsipnya, jangan sampai ada anak yang tidak sekolah,” ujarnya.

Ancaman Populasi dan Implikasi Jangka Panjang


Sepinya pendaftar ini bukanlah tanpa sebab. Analisis data dan pengamatan lapangan menunjukkan adanya tren penurunan jumlah anak usia masuk SD yang drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Jumlah calon siswa saat ini sudah sangat sedikit, jika dibandingkan dengan ketersediaan sekolah yang ada di Gunungkidul,” tambah Nunuk.

Data SPMB tahun ini kian memperjelas kekhawatiran tersebut. Dari kuota penerimaan calon siswa SD di Gunungkidul yang mencapai 13.888 kursi, hanya 7.111 calon siswa yang mendaftar. Setelah melalui proses seleksi administrasi dan lainnya, hanya 6.666 siswa yang dinyatakan diterima di SD, baik negeri maupun swasta.

“Angka ini jauh di bawah target ideal. Nunuk menyebutkan, banyak sekolah yang tidak memenuhi kuota rombongan belajar. Padahal, sesuai ketentuan, seharusnya setiap rombongan belajar diisi oleh 28 siswa baru,” pungkas Nunuk Setyowati.

Sumber : https://hariane.com/belasan-sd-di-gunungkidul-tak-dapat-siswa-baru-apa-penyebabnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top