News

News

Warga Pantai Sanglen Melawan Pengosongan Lahan Sultan Ground, Ancam Hadapi Ancaman dan Pertahankan Hak Turun Temurun

Radio Persatuan – Konflik kepemilikan lahan di Pantai Sanglen, Gunungkidul, memanas setelah batas waktu pengosongan area yang ditetapkan Keraton Ngayogyakarta berakhir pada 28 Juli 2025. Puluhan warga yang menggantungkan hidupnya di kawasan tersebut menolak keras perintah pengosongan, menegaskan hak turun-temurun mereka atas lahan Sultan Ground (SG) yang kini diklaim Keraton. Pantauan Hariane.com pada Selasa (29/7/2025) menunjukkan, spanduk-spanduk penolakan terpasang di berbagai sudut Pantai Sanglen. Kalimat-kalimat tajam seperti “Obelix KTP Ngendi? Pribumi Gunungkidul Opo Ora?” dan “Tanah untuk Rakyat. Bukan untuk Investor. Sejahterakan Dulu Rakyatmu Baru Investormu” menjadi representasi kemarahan dan kekhawatiran warga terhadap rencana pengembangan wisata, termasuk isu pembangunan hotel. Bowo, salah seorang warga yang sehari-hari berjualan dan menyewakan tenda di Pantai Sanglen, mengungkapkan bahwa spanduk-spanduk tersebut adalah bentuk respons spontan terhadap wacana masuknya investor. Ia juga menceritakan adanya intimidasi yang dialami warga setelah batas waktu pengosongan terlampaui. “Kemarin kita pasang pamflet hingga spanduk. Batas waktunya kan kemarin (pengosongan). Tadi pagi mendapati ada bangunan roboh, ada juga penyobekan banner. Bahkan ada kertas berisi tulisan ‘gelem mbongkar ora’ (mau bongkar tidak). Ini sudah kelewatan,” ujar Bowo dengan nada geram. Ia menjelaskan, setidaknya ada 56 orang yang menggantungkan hidup dari aktivitas di Pantai Sanglen, mulai dari berjualan hingga bertani. Mereka mengklaim telah mengelola dan merawat kawasan tersebut secara turun-temurun. “Sudah lama di sini. Kalau kita tidak memanfaatkan tanah untuk diperjuangkan, ya mau cari makan ke mana lagi?” tanya Bowo. Ia menambahkan, dulunya jalanan masih setapak dan warga bergotong royong membersihkannya hingga layak. Senada dengan Bowo, Wanto, warga lain, menegaskan komitmen mereka untuk mempertahankan lahan. “Ya tetap bertahan, tetap pengin di sini apa pun yang terjadi. Kami siap dengan segala risikonya,” tegas Wanto. Sultan HB X Tegaskan Status SG, Siap Dialog untuk Solusi Manusiawi Di sisi lain, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X kembali menegaskan bahwa status tanah di Pantai Sanglen adalah Sultan Ground (SG) yang merupakan milik Keraton. Menurutnya, warga yang menempati lahan tersebut tidak memiliki hak hukum. “Gak usah bicara hak-haan. Kalau memang dia tidak punya hak, ya bagaimana? Apakah kasih pesangon? Kasih pesangon itu sudah dianggap memadai gak? Nah, itu kan harus dibicarakan,” kata Sri Sultan. Meskipun demikian, Sri Sultan menekankan pentingnya mencari solusi yang manusiawi, termasuk opsi kompensasi dan relokasi bagi warga terdampak. Ia berharap polemik ini dapat diselesaikan melalui dialog yang adil tanpa konflik berkepanjangan. Terkait isu pembangunan hotel di kawasan tersebut, Sri Sultan menyatakan tidak ada masalah selama pembangunan sesuai ketentuan dan mendapat persetujuan dari bupati setempat. “Silakan saja. Yang penting untuk bikin apa disetujui oleh Bu Bupati, ya boleh. Untuk investasi atau apa pun, silakan. Tapi rembukan yang baik, gitu aja,” tegasnya. Pemerintah Provinsi DIY berharap semua pihak, khususnya warga terdampak, dapat membuka ruang dialog dan bersama-sama mencari solusi terbaik untuk mengakhiri polemik ini.

News

Si Jago Merah Amuk Rumah dan Usaha di Gunungkidul, Kerugian Capai Ratusan Juta Rupiah

Radio Persatuan – Sebuah rumah sekaligus tempat usaha sablon milik Nurfiki di Padukuhan Banyubening, Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, ludes terbakar pada Senin (28/7/2025) malam. Meski tak ada korban jiwa atau luka dalam insiden ini, kerugian materiil ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Kejadian nahas yang menimpa rumah berukuran 4×6 meter ini bermula sekitar pukul 19.00 WIB. Warga sekitar dikejutkan dengan suara ledakan disusul kobaran api yang melahap bangunan. Kepala Damkar Kabupaten Gunungkidul, Handoko, mengungkapkan bahwa saat kejadian, rumah dalam kondisi kosong karena pemiliknya sedang mengantar paket. Respon Cepat Warga dan Petugas Damkarmat Melihat api yang membesar, warga Banyubening menunjukkan kepedulian dan kesigapan luar biasa. Tanpa menunggu lama, mereka segera menghubungi petugas Damkar Kabupaten Gunungkidul. Sembari menanti kedatangan petugas, sebagian warga bergotong royong berupaya memadamkan api secara manual, meski angin kencang membuat kobaran api cepat menjalar. “Tidak lama setelah suara ledakan, terlihat kobaran api yang membakar rumah,” terang Handoko saat dikonfirmasi pada Senin (28/7/2025). Ia menambahkan bahwa hampir seluruh bagian rumah yang berfungsi sebagai tempat usaha sablon hangus terbakar. Berkat sinergi antara warga dan petugas Damkar, api berhasil dipadamkan sekitar pukul 19.35 WIB. Dugaan sementara, penyebab kebakaran adalah korsleting instalasi listrik di salah satu ruang kerja. Kerugian Materil dan Solidaritas Komunitas Kebakaran ini menyebabkan kerugian besar bagi Nurfiki. Seluruh aset berupa alat kerja sablon dan harta benda lainnya hangus terbakar. Diperkirakan kerugian akibat insiden ini mencapai Rp150 juta. Menunjukkan semangat kebersamaan yang tinggi, warga Padukuhan Banyubening berencana untuk menggelar kerja bakti pada Selasa (29/7/2025) guna membersihkan puing-puing sisa kebakaran. Ini menjadi bukti nyata solidaritas komunitas dalam menghadapi musibah. Imbauan Kewaspadaan untuk Masyarakat Handoko mengimbau seluruh masyarakat untuk senantiasa waspada dan mengecek ulang seluruh jaringan instalasi listrik sebelum meninggalkan rumah. Selain itu, ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak membakar sampah sembarangan, mengingat potensi bahaya yang ditimbulkan. Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan terkait kebakaran atau insiden darurat lainnya, Damkarmat Gunungkidul siap dihubungi melalui nomor telepon (0274) 391113 atau pesan WhatsApp di 0811-2657-113.

News

Modus Penipuan “Petugas Pajak” Kuras Rekening Guru MTs di Bantul, Korban Rugi Rp 69 Juta

Radio Persatuan – Seorang guru di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri di Pleret, Bantul, harus menelan kerugian hingga Rp 69 juta setelah menjadi korban penipuan dengan modus mengaku sebagai petugas pajak. Pelaku berhasil menguras dua rekening korban setelah memancingnya untuk melakukan panggilan video (video call) dengan fitur berbagi layar (screen sharing) dan melihat informasi m-banking korban. Korban, EW (49), warga Wirobrajan, Kota Yogyakarta, menuturkan bahwa kejadian bermula pada Kamis (24/7/2025) sekitar pukul 09.30 WIB, saat ia sedang mengajar di sekolahnya. Ia menerima panggilan telepon dari seorang perempuan yang mengaku berasal dari Kantor Pajak. “Perempuan yang mengaku dari Kantor Pajak itu menelepon terkait keperluan pembaruan nama Koperasi Apikri,” terang Kasi Humas Polres Bantul AKP I Nengah Jeffry kepada awak media, Senin (28/7/2025). Setelah percakapan awal, pelaku perempuan tersebut menyambungkan telepon kepada seorang teman laki-lakinya. Pria itu kemudian mengarahkan korban untuk mengunduh aplikasi mencurigakan bernama “Coretax”. Kemudian, pelaku laki-laki kembali menyambungkan telepon kepada teman perempuannya. Saat itulah, korban diminta untuk melakukan video call dengan mode berbagi layar. Tanpa disadari korban, perintah ini menjadi jebakan awal. Dalam video call tersebut, kedua pelaku meminta korban untuk menunjukkan aplikasi m-banking miliknya. Melalui fitur berbagi layar, pelaku dapat melihat dengan jelas seluruh informasi yang ada di m-banking korban. Kesempatan ini dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan aksinya. “Karena video call itu terlapor bisa melihat m-banking milik korban dan menguras dua rekening hingga korban mengalami kerugian Rp 69.150.000,” jelas AKP Jeffry. Menyadari bahwa ia telah menjadi korban penipuan, EW segera melaporkan kejadian yang menimpanya ke Polres Bantul. AKP Jeffry memastikan bahwa laporan korban telah diterima, dan pihak kepolisian saat ini tengah melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap kasus penipuan ini serta menangkap para pelaku. Sumber: detik.com

News

Lebih dari 1.009 Tukik Lahir di Kawasan Konservasi Penyu Pantai Trisik

Radio Persatuan – Upaya pelestarian penyu di Pantai Trisik, Kulon Progo, menunjukkan hasil yang menjanjikan sekaligus menghadapi tantangan. Sejak awal tahun hingga Juli 2025, sebanyak 28 sarang telur penyu berhasil ditemukan. Dari jumlah tersebut, 12 sarang sukses menetas, menghasilkan 1.009 tukik atau anak penyu. Namun, 4 sarang lainnya dilaporkan gagal menetas, menandakan adanya hambatan dalam proses reproduksi alami penyu di kawasan tersebut. Pengelola Konservasi Penyu Abadi Trisik, Edi Yulianto, mengungkapkan bahwa dari ribuan tukik yang menetas, 625 di antaranya telah berhasil dilepasliarkan ke habitat aslinya di laut. Pelepasliaran sisa tukik akan dilakukan secara bertahap, mengikuti jadwal yang telah ditetapkan. Pelepasliaran tukik, seperti yang dilakukan pada Minggu (26/7) pagi di Pantai Trisik, bukan sekadar agenda rutin. Kegiatan ini menjadi momentum krusial untuk menjaga semangat konservasi, melibatkan berbagai pihak seperti Pokdarwis Banaran, Kelompok Konservasi Penyu Abadi, Desa Wisata Banaran, Paguyuban Wisata Pantai Trisik, serta masyarakat setempat. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari pengembangan ekowisata di Pantai Trisik, yang berupaya mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan potensi pariwisata. Edi Yulianto menambahkan, “Harapannya, kegiatan ini menjadi daya tarik unggulan Pantai Trisik. Dalam rilis ini, pengunjung kami ajak belajar mengenai konservasi penyu dan menanam pandan. Ada sekitar 200 tukik yang dilepas.” Pernyataan ini menegaskan visi Konservasi Penyu Abadi Trisik untuk menjadikan ekowisata sebagai motor penggerak utama dalam pelestarian penyu. Melalui program ini, pengunjung tidak hanya disuguhkan pengalaman melepas tukik, tetapi juga mendapatkan edukasi mendalam mengenai konservasi penyu. Edi juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mendukung keberlanjutan program melalui donasi. Pengembangan pariwisata berbasis konservasi di Pantai Trisik diharapkan mampu menjawab berbagai isu lingkungan. Salah satu fokus utama adalah menjadikan kawasan pelepasan tukik penyu sebagai ikon ekowisata. Konservasi Penyu Abadi Trisik berkomitmen untuk terus berupaya memperbesar skala pelepasan tukik melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, guna memastikan keberlangsungan hidup penyu di masa mendatang.

News

Stadion Sultan Agung Siap Gelar Derby IHR 2025: Pacuan Kuda Nasional Paling Bergengsi dan Hiburan Keluarga

Radio Persatuan – Stadion Sultan Agung di Bantul akan kembali menjadi saksi bisu gelaran akbar balap kuda paling bergengsi di Tanah Air, Triple Crown Indonesia Horse Racing (IHR) Derby 2025. Ajang puncak penentuan gelar Triple Crown Indonesia ini dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 27 Juli 2025, mempertemukan 156 kuda terbaik dari seluruh penjuru Nusantara untuk memperebutkan total hadiah fantastis senilai Rp1,2 miliar. Aseanto Oudang, CEO & Co-Founder SARGA.CO, penyelenggara acara, menegaskan pentingnya IHR-Indonesia Derby sebagai salah satu kejuaraan utama dalam kalender pacuan kuda 2025. “Kami sangat bersemangat dalam mempersiapkan penyelenggaraan event ini,” ujar Aseanto dalam keterangan tertulis, Kamis (24/7/2025). Ia menambahkan bahwa komitmen mereka tidak hanya untuk menyajikan ajang prestisius dengan suasana yang nyaman dan aman bagi penonton, tetapi juga untuk menyaksikan lahirnya prestasi dan bahkan sejarah baru dalam dunia pacuan kuda Indonesia. Pertarungan Sengit di Berbagai Kelas IHR-Indonesia Derby 2025 akan menampilkan berbagai kelas pertandingan yang menjanjikan persaingan ketat. Beberapa kelas yang akan dipertandingkan antara lain: Fokus utama akan tertuju pada tiga kelas paling bergengsi: Kelas 3 tahun derby (2.000 meter), Kelas 3 tahun remaja (1.600 meter), dan Kelas 2 tahun pemula A/B (1.400 meter). Sorotan khusus akan diberikan kepada kuda King Argentine yang akan berjuang untuk meraih gelar juara untuk ketiga kalinya di kelas utama, menambah tensi dan drama di lintasan. “Dengan turut sertanya kuda-kuda dan joki-joki terbaik Indonesia, kami yakin IHR-Indonesia Derby 2025 akan menjadi ajang pertarungan yang sengit dan bergengsi,” tutur Aseanto. Ia berharap ajang ini tak hanya menjadi tontonan menarik bagi komunitas pecinta kuda, tetapi juga bagi seluruh masyarakat. Pacuan Kuda Bertabur Hiburan Tak hanya balapan kuda, IHR-Indonesia Derby 2025 juga akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan hiburan bagi penonton. SARGA.CO telah menyiapkan program Family Fun Day yang akan berlangsung bersamaan dengan ajang balap kuda. Pengunjung dapat menikmati beragam aktivitas keluarga, mulai dari lomba menggambar untuk anak-anak, wahana permainan (children playground), bazar seni dan kerajinan, festival kuliner, hingga berbagai games berhadiah. Sebelum puncaknya pada Minggu, 27 Juli 2025, SARGA.CO akan menggelar Sarga Festival pada Sabtu, 26 Juli 2025, di lokasi yang sama. Dengan konsep pesta kebun, Sarga Festival akan mengajak pengunjung untuk berpiknik santai sambil menikmati penampilan musik dari band-band ternama seperti Appolo 10, Arash Buana, Banda Neira, Batas Senja, Last Child, Masdddho, Nadhif Basalamah, dan Voxxes. Perpaduan antara kompetisi pacuan kuda kelas dunia dan hiburan keluarga ini diharapkan dapat menarik ribuan pengunjung ke Stadion Sultan Agung, menjadikan IHR-Indonesia Derby 2025 sebagai salah satu event olahraga dan hiburan yang tak terlupakan di Bantul.

News

Polemik Kandang PSIM: Sultan HB X Minta Sleman Tak ‘Cupet’ Soal Stadion Maguwoharjo

Radio Persatuan – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, mendesak Pemerintah Kabupaten Sleman untuk segera mengizinkan PSIM Yogyakarta menggunakan Stadion Maguwoharjo sebagai kandang resmi. Penegasan ini disampaikan Sultan menyikapi belum adanya kepastian izin bagi klub berjuluk Laskar Mataram tersebut, meskipun PSIM telah menyatakan kesediaannya untuk menyewa sesuai ketentuan yang berlaku. Sultan HB X menegaskan bahwa Stadion Maguwoharjo dibangun menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga sudah seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan publik secara luas, bukan hanya untuk satu wilayah atau kelompok tertentu. “Ya kan terserah pemerintah, masa tiap kabeh bangun stadion hanya untuk rakyatnya sendiri. Sleman kan bagian dari DIY,” ujar Sri Sultan pada Kamis (24/7/2025). Menurut Sultan, sebagai bagian integral dari Provinsi DIY, pembatasan pemanfaatan stadion hanya untuk kepentingan wilayah Sleman adalah hal yang tidak sepatutnya terjadi. Ia menyayangkan penolakan tersebut, terutama karena pihak yang akan memanfaatkan adalah PSIM, sebuah klub kebanggaan DIY. Sultan juga menyoroti ironi bahwa selama ini Stadion Maguwoharjo kerap disewakan kepada pihak di luar DIY, namun justru menolak klub dari daerah sendiri. “Masak disewa sama yang lain boleh dari luar Jogja, malah sama PSIM nggak boleh. Kan nggak ada ruginya. Wong ra gratis,” tegasnya, menekankan bahwa tidak ada kerugian finansial bagi Sleman karena PSIM akan membayar sewa. Melihat polemik yang berlarut-larut, Sri Sultan mendorong adanya dialog terbuka antara Pemerintah Kabupaten Sleman dan pihak-pihak terkait untuk segera menemukan solusi. “Makanya saya minta rembukan sama Pak Bupati. Itu kan untuk kepentingan publik,” ujarnya. Sultan HB X menilai pembatasan penggunaan fasilitas publik berdasarkan wilayah administratif mencerminkan pola pikir yang sempit dan tidak selaras dengan semangat keistimewaan DIY yang mengedepankan kebersamaan. “Mosok dari Jogja sendiri nggak boleh. Kan nggak logis, terlalu cupet pola pikirnya,” pungkas Sultan, menegaskan perlunya perspektif yang lebih luas dalam pengelolaan aset publik. Sebagai informasi, PSIM Yogyakarta berencana menjadikan Stadion Maguwoharjo sebagai home base mereka untuk gelaran Super League 2024/2025. Namun, hingga kini, manajemen PSIM belum mendapatkan kepastian terkait penggunaan stadion tersebut. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan suporter PSIM mengenai kesiapan klub menghadapi musim kompetisi mendatang.

News

Warga Kota Yogyakarta Tertangkap Buang Sampah Sembarangan di Bantul

Radio Persatuan – Dua warga Kota Yogyakarta diamankan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bantul dalam sebuah operasi tangkap tangan (OTT) pada Kamis (24/7/2025). Keduanya kedapatan membuang sampah sembarangan di wilayah Bugisan, Bantul. Penangkapan ini merupakan tindak lanjut dari pengawasan CCTV yang dipasang oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Bantul di sejumlah titik rawan pembuangan sampah liar. Kepala Satpol PP Kabupaten Bantul, Jati Bayu Broto, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan kajian mendalam terhadap pola dan pelaku pembuangan sampah sembarangan sebelum melancarkan OTT. “Setelah pemasangan CCTV dari Diskominfo, lalu dilakukan kajian terhadap pola dan pelaku pembuangan sampah sembarangan. Kemudian, tadi malam kami tindak lanjuti dengan OTT terhadap pelaku pembuang sampah. Hasilnya, ada dua orang yang diamankan di wilayah Bugisan,” ungkap Jati. Dalam pemeriksaan awal, kedua pelaku yang merupakan warga Kota Yogyakarta mengaku terpaksa membuang sampah di Bantul lantaran kesulitan mencari tempat pembuangan sampah (TPS) resmi di wilayah Kota Yogyakarta. Pengakuan ini menyoroti permasalahan aksesibilitas pengelolaan sampah yang mungkin dihadapi oleh sebagian warga. Menanggapi hal tersebut, Jati Bayu Broto menegaskan bahwa kedua pelaku akan diproses hukum sesuai ketentuan yang berlaku. “Kami juga punya barang bukti yang kuat untuk menindaklanjuti mereka di sidang yustisi,” tegas Jati, menambahkan bahwa sidang yustisi akan dilaksanakan untuk memberikan efek jera dan mencegah terulangnya pelanggaran serupa. Satpol PP Bantul menyatakan akan terus gencar melakukan penindakan serupa di lokasi-lokasi lain yang sering dijadikan tempat pembuangan sampah liar. Upaya ini diharapkan dapat menjaga kebersihan lingkungan dan mendisiplinkan masyarakat.

News

Tumpukan Sampah Menggunung di Depo Kota Yogyakarta, Transisi Pengelolaan Jadi Biang Kerok

Radio Persatuan – Depo-depo sampah di Kota Yogyakarta mengalami penumpukan volume yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini dipicu oleh terhentinya kerja sama pengelolaan sampah dengan pihak swasta, ditambah dengan keterbatasan evakuasi sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi masalah lingkungan dan kesehatan jika tidak segera ditangani. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Kusno Wibowo, pada Rabu (23/7) menjelaskan bahwa penumpukan ini merupakan dampak dari masa transisi pengelolaan sampah. “Sampah di Kota Jogja kan dikelola menggunakan jasa swasta, namun karena ada penertiban di jasa swasta maka berdampak mulai ada penumpukan di beberapa depo sampah,” terang Kusno. Ia menambahkan bahwa evakuasi sampah ke Piyungan oleh DLHK DIY masih berlangsung, namun dalam kapasitas yang sangat terbatas. Penertiban terhadap jasa swasta ini, menurut Kusno, berkaitan erat dengan permasalahan perizinan. Perusahaan-perusahaan yang belum menyelesaikan izinnya tidak dapat melanjutkan kerja sama pengelolaan sampah. “Diimbau bagi mereka yang belum menyelesaikan izin, untuk kemudian mohon diurus dulu dan sebagainya,” tegasnya. Peran Pemda dan Peningkatan Kinerja TPS3R Sebagai respons terhadap situasi darurat ini, evakuasi sampah yang dilakukan oleh DLHK DIY saat ini bersifat insidentil, berdasarkan permintaan dari Pemerintah Kabupaten/Kota. “Nanti ada surat dari kepala daerah ke pemerintah provinsi. Jadi tidak harian. Karena sifatnya darurat,” jelas Kusno. Di sisi lain, upaya peningkatan kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di tingkat kabupaten/kota terus digencarkan. Kusno mencontohkan salah satu TPST yang sebelumnya hanya mampu mengelola 5 ton sampah per hari, kini diupayakan untuk dapat menangani hingga 10 ton per hari. “Kemudian yang lain juga ada peningkatan kinerja seperti itu,” imbuhnya. Peningkatan kinerja TPS3R diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada TPA dan pengelolaan pihak ketiga.

News

Misteri Kematian Diplomat Arya Daru Kian Pekat: Komnas HAM Pilih Rahasiakan Hasil Pertemuan dengan Keluarga

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) kembali menyoroti kasus kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan, dengan kunjungan tertutup ke kediaman keluarga almarhum di Banguntapan, Bantul, Rabu (23/7/2025). Namun, pertemuan yang berlangsung selama tiga jam tersebut justru menyisakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, memicu spekulasi mengenai alasan Komnas HAM menahan informasi. Kedatangan rombongan Komnas HAM, yang terpantau tiba sekitar pukul 10.00 WIB dan meninggalkan lokasi pada 13.26 WIB, menjadi pusat perhatian. Sayangnya, harapan publik akan transparansi mengenai perkembangan kasus ini pupus saat Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, menolak memberikan rincian hasil pertemuan. Anis Hidayah hanya menyatakan bahwa tujuan kunjungan adalah untuk “meminta keterangan kepada keluarga korban.” Pernyataan singkat tersebut diulanginya beberapa kali, bahkan ketika didesak mengenai adanya temuan baru atau dugaan pelanggaran HAM. “Nanti saja, itu dulu. Nanti akan kami sampaikan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa informasi lebih lanjut akan diumumkan pada waktunya. Keengganan Anis untuk menjelaskan secara spesifik hal-hal yang didalami Komnas HAM, termasuk siapa saja anggota keluarga yang dimintai keterangan, menimbulkan tanda tanya besar. Di sisi lain, keluarga almarhum Arya Daru juga memilih bungkam. Mertua almarhum, Prof. Basu Swastha Dharmmesta, yang menemui wartawan, menyampaikan permohonan maaf. “Mohon maaf sekali lagi. Kami benar-benar lelah, lahir dan batin,” ujarnya, mengisyaratkan beban berat yang ditanggung keluarga di tengah sorotan publik dan proses penyelidikan yang berjalan. Sikap tertutup dari kedua belah pihak, baik Komnas HAM maupun keluarga, menimbulkan pertanyaan krusial: mengapa informasi ditahan dari publik? Apakah ada temuan sensitif yang berpotensi memicu kontroversi? Atau, apakah ini bagian dari strategi penyelidikan yang memang mengharuskan kerahasiaan? Publik menanti penjelasan lebih lanjut dari Komnas HAM, mengingat kasus kematian seorang diplomat muda memiliki implikasi yang luas dan sensitif. Transparansi Komnas HAM dalam kasus ini akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga penegak HAM.

News

Polisi Selidiki Kematian Pria Berlumur Luka di Bawah Jembatan Glagah

Radio Persatuan – Kepolisian Resor Kulon Progo terus mendalami penyebab kematian seorang pria berinisial HS (36) yang ditemukan tak bernyawa di bawah Jembatan Glagah, Temon, Kulon Progo, pada Rabu (23/7/2025). Jasad korban, warga Kapanewon Temon, ini ditemukan dengan luka sobek dan memar di bagian dahi, memicu dugaan kuat adanya tindak kekerasan. Kasi Humas Polres Kulon Progo, Iptu Sarjoko, membenarkan identitas korban setelah dilakukan pemeriksaan. “Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, korban adalah laki-laki berinisial HS, tinggal di Temon,” ujar Sarjoko. Penemuan mayat bermula sekitar pukul 07.40 WIB, ketika seorang warga yang melintas di sekitar Jembatan Glagah melihat benda mencurigakan berwarna merah bermotif garis putih mengapung di air. Setelah didekati, benda tersebut ternyata adalah jasad manusia yang mengenakan kaus bermotif lorek. Saksi mata segera melaporkan temuan tersebut kepada Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah V Kulon Progo, Aris Widyatmoko, yang kemudian diteruskan ke pihak kepolisian. Tim medis yang melakukan pemeriksaan awal di lokasi menemukan adanya luka sobek dan memar pada dahi korban. Kondisi jasad yang belum mengeluarkan bau menyengat mengindikasikan bahwa kematian korban belum berlangsung lama. Tim PMI Kulon Progo turut membantu proses evakuasi dengan mengerahkan satu unit ambulans dan tiga personel. Hingga saat ini, pihak kepolisian belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai penyebab pasti kematian HS. Penyelidikan intensif tengah dilakukan untuk mengungkap kronologi kejadian serta memastikan apakah terdapat unsur pidana, termasuk dugaan pembunuhan, di balik tewasnya pria tersebut. Masyarakat diminta untuk tidak berspekulasi dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak berwajib.

Scroll to Top